Cahaya Populer

Jumat, 30 Maret 2012

Sperma Buatan ciptaan ilmuwan inggris


Infertilitas atau ketidaksuburan bisa diakibatkan adanya gangguan di saluran reproduksi pria ataupun wanita. Gangguan di pihak suami bisa berupa gangguan sperma, gangguan ejakulasi, atau impotensi. Oleh karena itu, pria juga perlu melakukan pemeriksaan untuk menentukan penyebab gagal hamil dan bagaimana mengatasinya. Lalu, kapan mutu sperma suami perlu diperiksa?

1. Jika istri tidak hamil setahun setelah menikah meski sudah melakukan hubungan seksual secara teratur (2-3 kali seminggu tanpa KB).

2. Jika saat menikah istri berusia 35 tahun, tapi belum juga hamil enam bulan setelah menikah meski melakukan hubungan seksual secara teratur.

3. Jika saat menikah istri berusia 40 tahun, tapi belum juga hamil tiga bulan setelah menikah meski melakukan hubungan seksual secara teratur.

4. Jika ketiga hal tadi menimpa, ada baiknya segera menemui dokter untuk dilakukan pemeriksaan. Yang paling mudah, memeriksa suami dengan analisis sperma. Namun, yang ideal adalah melakukan pemeriksaan pada kedua pihak, baik istri maupun suami. Analisis sperma pun tak boleh dilakukan sembarangan karena hasilnya bisa bias. Yang paling tepat adalah melakukan analisis sperma ke klinik kesuburan.
  mani buatan

memang canggih pemikiran manusia sekarang,dengan sebab banyak pria yang tak subur.
para ilmuwan mengadakan riset menciptakan mani buatan
Pesatnya penelitian sel punca memasuki babak baru. Ilmuwan asal Inggris mengklaim berhasil menciptakan sperma manusia dari sel punca embrionik (embryonic stem cells) yang pertama di dunia. Lewat temuan ini diharapkan bisa membantu pria infertil untuk memiliki anak biologis.

Lewat penelitian selama 10 tahun, para ilmuwan mengembangkan pengetahuan dasar bagaimana sperma berkembang untuk mendesain terapi yang memungkinkan pria kurang subur bisa memiliki anak. Hal tersebut diungkapkan peneliti Karim Nayernia dari Universitas Newcastel, Inggris, yang sebelumnya berhasil menghasilkan bayi tikus dari sperma buatan dengan teknik serupa.

Hasil riset gabungan antara ilmuwan dari Newcastle dan the NorthEast England Stem Cell Institute tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Stem Cells and Development.

Sejauh ini sel punca merupakan hasil riset dasar bidang biologi yang membawa terobosan besar di bidang kedokteran. Sel punca adalah sel terdiferensiaasi yang bisa memperbanyak diri untuk menghasilkan sel punca lain.

Secara teoritis sel punca bisa menjadi beragam sel dalam tubuh, seperti sel jantung, sel otak, pankreas, atau pembuluh darah.

Masih ragu

Beberapa ahli lain menyatakan belum yakin dengan sel sperma ciptaan Nayernia dan timnya. Menurut para pengkritik, sel sperma yang diciptakan tersebut abnormal.

"Dari paper Profesor Nayernia yang saya baca, saya tidak yakin sperma yang berasal dari sel punca embrionik itu bisa akurat disebut sebagai spermatozoa," kata Allan Pacey, dosen senior dalam bidang andrologi dari Universitas Sheffield, Inggris.

Dalam pernyataannya, Pacey mengungkapkan, sperma ciptaan Nayernia tersebut tidak punya ukuran, bentuk, gerakan, serta fungsi seperti sperma asli.

Senada dengan Pacey, Azim Surani, profesor bidang physiologi dan reproduksi dari Universitas Cambridge mengatakan bahwa sperma yang diciptakan tim ahli dari Newcastle tersebut masih jauh dari sel sperma yang sebenarnya.

Meski Nayernia mengatakan sel sperma ciptaannya menunjukkan semua karateristik sperma, tetapi para kritikus mengatakan ciptaan itu hanya membuka cakrawala baru dalam penelitian yang sifatnya masih dini dan belum bisa dipakai untuk membuahi sel telur.

Menurut Nayernia, saat ini hukum pemerintah Inggris masih melarang diciptakannya embrio dari hasil sperma buatan laboratorium. Padahal, menurutnya, alasan utama pembuatan sperma ini adalah untuk mencari tahu penyebab infertilitas, bukan untuk membuahi sel telur.

Pihaknya berharap ada pelonggaran hukum untuk mengijinkan para ilmuwan mencoba sel sperma ini agar bisa menghasilkan terapi yang efektif untuk mengobati infertilitas.


Sumber: healthdaynews

Anak Sekolah Dujual Kawannya 2

Aku permainkan lidahku di dalam mulutnya dan dengan mesra Lisa mulai berani membalas cumbuanku dengan menggigit lembut dan mengulum lidahku dengan bibirnya. Terasa nikmat dan manis. Ketika kedua lidah kami bersentuhan, hangat dan basah. Lalu kukucup dan kukulum bibir atas dan bawahnya berganti-ganti. Terdengar bunyi kecapan-kecapan kecil saat bibirku dan bibirnya saling berlaga. Tak kusangka Lisa dapat membalas semua kucupan dengan ghairah begitu. 
Aku tersenyum. Jemari tangan kananku yang masih berada di kelangkangnya mulai bergerak menekan bukit cipapnya semula. Kuusap-usap ke atas dan ke bawah dengan perlahan. Lisa menjerit kecil dan mengeluh perlahan, kedua matanya dipejamkannya rapat-rapat, sementara mulutnya yang kecil terbuka sedikit. Wajahnya nampak berpeluh sedikit. Kucium telinganya dengan lembut. 

"Oohmm. Bb.. Bangg..", bisiknya perlahan. 
"Sedap tak Abang buat begini", tanyaku bernafsu. 
"Hh.. I.. Iyyaa.. Sedap Bang..", bisiknya terus terang. Dia ni dah naik nafsunya ni. Fikirku dalam hati. 

Aku merangkul tubuhnya lebih rapat ke badanku lalu kami kembali berkucupan. Tangan kirinya menarik pinggangku dan memegang kemejaku kuat-kuat. Bila puas mengusap-usap bukit cipapnya, kini jemari tangan kananku bergerak merayap ke atas, mulai dari pangkal pehanya terus ke atas. Di bawah baju kurungnya. Menyelusuri pinggangnya yang kecil ramping tapi padat, sambil terus mengusap. Kurasakan hujung jemariku mulai berada di antara dua buah dadanya. Jemari tanganku merasakan betapa padat buah dadanya. Aku usap perlahan di situ lalu mulai mendaki perlahan-lahan. Kekadang jemari tanganku meramas buah dadanya terlalu kuat. Lembut dan semakin kenyal. Ketika itu juga Lisa melepaskan bibirnya dari kuluman bibirku. Mulutnya menjerit kecil. 

"Aaww.. Bang sakitt.. Jangan kuat-kuat..", protes Lisa tapi tetap tersenyum.. 

Aku ambil tangan kirinya dan kuletakkan di celah kelangkangku. Kulihat kedua matanya dipejamkan rapat-rapat. Dalam hatiku berkata. Eehh. Dia. Ni malu-malu tapi mau.,. Tangan Lisa itu mulai menyentuh batangku yang beralaskan seluar dalamku. Apalagi batangku tersengguk-sengguk tak boleh diam. Langsung aku buka seluar dalamku. Aku genggamkan tangannya pada batangku. Aku mengerang nikmat bila tiba-tiba saja Lisa bukannya menggenggam lagi tapi malah meramas dengan kuat. Aku mengeluh nikmat. Kulihat Lisa kini sudah berani menatap batangku yang sedang diramasnya, aku tak tahu apa yang sedang ada dalam fikirannya, aku tak peduli, yang penting kenikmatan. 

Aku tarik tubuh Lisa rapat di sampingku dan aku peluk dengan kemas. Lisa menggeliat manja saat aku merapatkan badanku ke tubuhnya yang kecil sehingga buah dadanya yang terasa menekan dadaku. Mm asyikknya. Sementara itu aku cari bibirnya, Lisa merangkulkan kedua lengannya ke leherku, dengan gelojoh tiba-tiba ia pun mengucup bibirku, aku membalasnya dengan tak kurang ganasnya. Lisa termengah-mengah kehabisan nafas. Sementara itu aku tekan batangku kuat ke arah cipapnya. Semasa berkuluman, jemari tanganku mulai merayap ke bahagian belakang tubuhnya, sampai jemari kedua tanganku berada diatas bulatan kedua belah ponggongnya. Kuramas dan kuusap-usap. Aku goyang-goyang daging di ponggongnya sehingga aku dapat merasakan kekenyalan daging ponggongnya yang padat itu. 

Lisa merintih dan mengerang kecil dalam cumbuanku. Lalu kurapatkan ke bahagian bawah tubuhnya ke depan sehingga mau tak mau batangku yang telah keras itu berlaga dengan cipapnya yang masih berbungkus. Aku mulai menggesel-geselkan batangku. Lisa diam saja. Mungkin terasa nikmatnya. 

Kedua tanganku mulai berleluasa. Mencari kancingnya. Aku turunkan badanku sehingga mukaku berada di depan kelangkangnya.  
"Abang buka yaa.. Ya?", tanyaku pura-pura. Meminta izin. 

Lisa hanya menganggukan kepalanya perlahan. Kedua tanganku kembali merayap ke atas menyelusuri kedua betisnya yang kecil terus ke atas sampai kedua belah pehanya yang putih mulus tanpa cacat sedikitpun, halus sekali kulit pehanya, aku usap perlahan dan mulai meramas. 

" Ooh.. Bang..", Lisa merintih kecil. 

Kemudian jemari kedua tanganku merayap ke belakang. Ke ponggongnya yang bulat. Aku ramas-ramas ganas. Aahh. Begitu halus, kenyal dan padat. Ternyata Lisa pandai menjaga diri. Ketika jemari tanganku menyentuh tali bahagian atas seluar dalamnya, aku tarik ke bawah. Betapa indahnya bentuk cipapnya. Seperti kuih putu piring aje. Di bahagian tengah bukit cipapnya terbelah. Masih tertutup rapat liang cipapnya. 

Di sekitar kawasan itu hanya terlihat beberapa helai bulu cipapnya. Itupun halus-halus. Begitu bersih dan putih cipap milik Lisa ni, bisik hatiku. Sedang aku menghayati keindahan cipapnya itu. Aku lihat Lisa membuka baju kurungnya. Kemudian aku tolong dia buka branya. Wajahnya sedikit kemerahan menahan malu namun ia berusaha untuk tetap tersenyum. Aduhai. Buah dadanya itu memang cantik. Berbentuk bulat seperti bola tennis, warnanya putih. Bersih. Puting-putingnya masih kecil. Berwarna merah muda brownish pun ada sikit-sikit. Sungguh cantik. Fikirku. 

"Lisa ni cantik sekali", bisikku perlahan. 

Batangku semakin tersengguk-sengguk tak tentu hala. Lalu Lisa menghulurkan kedua tangannya kepadaku mengajakku berdiri. Kini rasanya kami seperti sepasang kekasih saja. 

"Bang. Lisa dah siap. Lisa akan serahkan semuanya. Seperti yang Abang. Dan Lisa inginkan", bisiknya. 
"Aahh. Atas katil jom. Abang dah tak tahan ni", bisikku tanpa malu-malu lagi. Lisa tersenyum. 
"Terserah Bang. Abang nak buat kat manapun", sahutnya. 

Tooiinng. Batangku tersengguk-sengguk seolah-olah bersetuju. Dengan penuh nafsu aku segera menarik tubuhnya ke katil. Kurebahkan tubuh Lisa yang telanjang bulat itu di atas katil, Tubuh Lisa yang telanjang bulat kelihatan dengan jelas dari hujung rambut sampai hujung kaki. Lisa memandangku. Menunggu apa yang akan berlaku seterusnya. 

Aku buka baju kemejaku. Aku merayap keatas katil. Dan baring di sebelahnya. Kami berkulumam lidah sebentar. Sementara tanganku merayap ke seluruh tubuhnya. Aku usap kedua buah dadanya sambil meramas-ramas perlahan. Kemudian tanganku turun ke bawah. Ke celah kelangkangnya. Sambil mengusap-usap di situ. Sampai terasa lelehan air mazinya di jariku. Lisa merintih-rintih kecil. 

Aku geserkan mukaku tepat berada di atas kedua bulatan buah dadanya, Jemari kedua tanganku mulai merayap di dua gunung miliknya itu, seolah hendak mencakar kedua buah dadanya. Dan aku uli secukupnya gumpalan kedua buah dadanya yang kenyal dan montok. Lisa merintih dan menggeliat antara geli dan nikmat. 

"Bang.. Mm.. Mm.. Iih.. Geli Bang..", erangnya perlahan. 

Beberapa saat kumainkan kedua puting-puting buah dadanya yang kemerahan dengan ujung jemariku. Lisa menggeliat lagi. Aku gentel sedikit putingnya dengan lembut. 

"Mm Bang", Lisa semakin mendesah tak karuan dan aku ramas-ramas kedua buah. 
"Aaww. Bbaa.. Nngg..", Lisa mengerang dan kedua tangannya memegang kain cadar dengan kuat. 
Aku semakin menggila. Tak puas kuramas lalu mulutku mulai menjilati kedua buah dadanya secara bergantian. Seluruh permukaan buah dadanya basah. Kugigit-gigit lembut puting-puting buah dadanya secara bergantian sambil kuramas-ramas sampai Lisa berteriak kecil kesakitan. "Bangg .. Sshh .. Shh .. Oohh .. Oouww .. Banngg ..", erangnya. Aku tak peduli.Lisa menjerit kecil sambil menggeliat ke kiri dan kanan, sesekali kedua jemari tangannya memegang dan meremas rambut kepalaku. Kedua tanganku tetap meramasi kedua buah dadanya bergantian sambil kuhisap-hisap dengan penuh rasa nikmat. Bibir dan lidahku dengan sangat rakus mengecup, mengulum dan menghisap kedua buah dadanya yang kenyal dan padat. Di dalam mulut, puting buah dadanya kupilin-pilin dengan lidahku sambil terus menghisap. Lisa hanya bisa mendesis, mengerang, dan beberapa kali menjerit kuat ketika gigiku menggigit lembut putingnya. Beberapa tempat di kedua bulatan payudaranya nampak berwarna kemerahan bekas hisapan dan garis-garis kecil bekas gigitanku. Mm. Mm.Ini benar-benar nikmat. Setelah cukup puas. Bibir dan lidahku kini merayap menurun ke bawah. Kutinggalkan kedua belah buah dadanya yang basah dan penuh dengan lukisan bekas gigitanku dan hisapanku, terlalu jelas dengan warna kulitnya yang putih. Ketika lidahku bermain di atas pusarnya, Lisa mulai mengerang-erang kecil keenakan, bau tubuhnya yang harum bercampur dengan keringat menambah nafsu sex-ku yang semakin memuncak, kukucup dan kubasahi seluruh perutnya yang kecil sampai basah. Aku mundur ke bawah lagi.Dengan cepat lidah dan bibirku yang tak pernah lepas dari kulit tubuhnya itu telah berada di atas bukit cipapnya yang indah mempesona. Tapi selangkangannya terkatup membuatku kurang leluasa untuk mencumbu vaginanya. "Buka kaki Liza ye", kataku tak sabar. "Ooh. Bbaanngg", Lisa hanya merintih perlahan bila aku membuka selangkangannya. Kelihatannya dia sudah lemas aku permainkan, tapi aku tau ​​dia belum orgasme walaupun sudah terangsang. Sekarang ini aku ingin merasakan kelezatan cairan kewanitaan dari liang cipap seorang gadis sunti. Aku memperbaiki posisi kepalaku di atas kelangkang Lisa. Lisa membuka ke dua belah pahanya lebar-lebar. Kini wajahnya yang manis tampak kusut dan rambutnya tampak tak terurus. Kedua matanya tetap terpejam rapat namum bibirnya kelihatan basah merekah indah sekali. Kedua tangannya juga masih tetap memegang sprei, dia kelihatannya rasa tertekan. "Lisa", kataku ramah. "Lepaskan saja perasaan. Jangan takut. Kalau Lisa merasa nikmat. Menjerit saja. Biar puass", kataku selanjutnya. "I.. Iya b .. Bbanngg .. Se .. Seedapp banngg .. ", sambil tetap memejamkan mata ia berkata perlahan.Aku tersenyum senang, sebentar lagi kau akan merasakan kenikmatan yangg luar biasa sayang, bisikku dalam hati, dan setelah itu aku akan merenggut kegadisanmu dan menyetubuhimu sepuasnya. Kuhayati beberapa saat keindahan cipapnya itu. Cipap milik Lisa ini masih Fresh. Kulit di bibir cipap dan di sekitar vaginanya itu masih tembam, tidak repot.Kedua bibir cipapnya tertutup rapat sehingga susah untuk aku melihat lubang cipapnya.Benar-benar dara sunti pikirku bangga. Aahh. Betapa nikmatnya nanti saat celah cipap dan liang cipapnya mengemut batangku, akan kutumpahkan sebanyak-banyaknya air maniku ke dalam liangnya nanti sebagai tanda kenikmatan dunia yang tak terkata. Aku berharap agar Lisa juga bisa merasakan semburan air maniku yang hangat, agar dia juga dapat merasakan kenikmatan yang kurasakan. Selanjutnya tanpa kuduga kedua tangan Lisa menekan kepalaku ke bawah. Ke arah vaginanya. Hidungku terbenam di antara kedua bibir vaginanya.Empuk dan hangat. Kuhidu sepuas-puasnya bau vaginanya penuh perasaan, sementara bibirku mengecup bagian bawah bibir vaginanya dengan penuh bernafsu. Aku sudu-sudu vaginanya dengan mulutku, sementara jemari kedua tanganku merayap ke balik pahanya dan meremas ponggongnya yang bulat dengan ganas. Rasa vaginanya. Mm. Yummy. Ada sedikit manis dan asin. Nikmat. Lisa menjerit-jerit nikmat tak karuan, tubuhnya menggeliat hebat dan kekadang melonjak-lonjak kencang, beberapa kali kedua pahanya mengepit kepalaku yang asyik berkulum dengan bibir vaginanya. Kupegang kedua belah ponggongnya yang sudah agak berpeluh agar tidak bergerak terlalu banyak, sementara bibirku masih bermain-main di vaginanya. "Mm .. Bangg .. auuww .. Aaww .. Hgghhkkhh ..". Lisa mengerang-erang. "Bang .. Ssedapp .. Bangg .. Aahh aduuhh .. Oouuhh ..", ia memekik cukup kuat karena nikmatnya. Kedua tangannya bergerak meramas rambut kepalaku, sambil menggoyang-goyangkan bahunya yang seksi. Kekadang ponggongnya dinaikkannya sambil terkejang nikmat kekadang. Digoyangkan ponggongnya seirama dengan nyonyotanku ke vaginanya. "Bangg .. Oouhh .. yaahh .. Yaahah .. Bang .. Huhuhu .. Huhu ..", Lisa berteriak semakin keras. Terkadang Lisa seperti menangis. Mungkin tidak berdaya menahan kenikmatan yang kuhasilkan pada cipapnya. Tubuhnya menggeliat hebat dan kepala Lisa berpaling ke kiri dan ke kanan dengan cepat, mulutnya mendesis dan mengerang tak karuan.Aku semakin bersemangat melihat reaksinya. Mulutku semakin buas, dengan nafas terputus-putus kusingkap bibir dengan jemari tangan kananku. Mm. Kulihat daging berwarna merah muda yang basah oleh air liurku bercampur dengan cairan air mazinya. Sebelah bawah terlihat celah liang vaginanya yang sangat sempit dan berwarna kemerahan. Aku mencoba untuk membuka bibir cipap Lisa agak luas, namun Lisa tiba-tiba menjerit kecil. Ternyata aku terlalu luas menyingkap bibir cipapnya. Kuusap dengan lembut bibir vaginanya. Kemudian lalu kusingkap kembali perlahan-lahan bibir nakalnya itu, celah merahnya kembali terlihat, atas liang vaginanya kulihat ada tonjolan daging kecil. Juga berwarna kemerahan. Batu permatanya. Bagian paling sensitif. Mm. Ni dia mutiara nikmat untuk Lisa pikirku, lalu dengan rakus lidahku kujulurkan keluar dan mulai menjilat batu permata itu. Tiba-tiba Lisa menjerit keras sambil kedua kakinya menyentak-nyentakkan ke bawah. Lisa mengejang dengan hebat. Dengan pembaruan aku memegang kedua belah pahanya dengan kuat lalu sekali lagi kulekatkan bibir dan hidungku di atas celah kedua bibir vaginanya, kujulurkan lidahku keluar sepanjang mungkin lalu kuteluskan lidahku menembusi apitan bibir vaginanya dan kembali menjilat nikmat permatanya. "Hgghggh .. Hhgh .. Sshshhshh. . ", Lisa menjerit tertahan dan mendesis panjang. Tubuhnya kembali mengejang. Ponggongnya diangkat-angkat ke atas sehingga lebih senang lidahku menelusup masuk dan mengulit-ulit batu permatanya. Tiba-tiba kudengar Lisa seperti terisak dan kurasakan ada cairan hangat singgah ke bibir mulutku.Aku mengulit permatanya sehingga tubuh Lisa mulai terkulai lemah dan akhirnya ponggongnyapun jatuh kembali ke ranjang. Lisa melenguh tak menentu. Menghayati nikmat yang baru pertama kali dia rasakan, kenikmatan sorga dunia miliknya. Celah vaginanya kini tampak agak lebih merah. Seluruh selangkangannya itu tampak basah. Penuh dengan air liur bercampur lendir yang kental. Mm. Mm. Aku jilati seluruh permukaan bukit cipapnya. "Sedap kan?", bisikku. Lisa sama sekali tak menjawab, matanya terpejam rapat. Kulihat lidah Lisa mambasahkan bibirnya. Tanda menikmati keasyikan yang amat sangat. Mulutnya tampak tersenyum bahagia. Tanpa menunggu jawabannya, aku segera duduk setengah berlutut di atas tubuhnya. Buah dada Lisa penuh dengan lukisan hasil karyaku. Nafasnya terlihat turun naik laju. Dengan agak kasar aku bengkokkan kakinya. Dan kutumpangkan kedua pehaku pada pangkal pahanya sehingga selangkangannya menjadi terbuka luas memperlihatkan cipapnya yang merangsang itu. Kutarik ponggongnya kearahku sehingga batangku yang sudah cukup lama sengsara, aku geselkan diatas bukit cipap milik Lisa yang masih basah.Kuusap-usapkan kepala batangku pada kedua celah bibir vaginanya. Nikmat. Lisa menggeliat manja. "Bangg .. iih .. gelii .. Aah .. Ggeellii ..", jeritnya manja. Aku pegang batangku yang sudah keras dan aku ulit-ulitkan di alur cipapnya. Sambil kuusik-usik batu permatanya dengan kepala batangku. Kemudian aku tusuk celah bukit cipapnya, mencari liang vaginanya perlahan-lahan. Kurasakan bukit cipapnya nikmat dan hangat. Aahh. Kuarahkan batangku dengan tanganku menusuk bukit cipapnya yang lembut lalu kepala batangku menyelusup masuk di antara kedua bibir vaginanya. "Perlahan-lahan Bangg ..", bisiknya lemah. Dengan jemari tangan kananku mengarah batangku yang sudah tak sabar ingin segera masuk dan meragut selaput daranya itu . Lisa memegang pinggangku kemas-kemas, sementara kulihat Lisa memejamkan kedua belah matanya seolah menungguku. Aku tekan lagi perlahan-lahan."Aahh .. Bangg .. Mm .. Aaww .. Pelan-pelan Bangg .. sakiit ..", Lisa memekik kecil. Menggeliat kesakitan. Segera aku pegang bahunya agar jangan bergerak. Aku berhenti menekan. aku main-mainkan sejauh itu saja. Tak mau terus menekan ke dalam. Dalam pada itu. Tanganku merayap-rayap di dadanya. Aku sedut-sedut dadanya. Dan aku kecup telinganya. Akhirnya aku berhasil melupakan kasakitannya dengan kenikmatan. Dan apabila nampak saja Lisa berada di alam kenikmatan. Aku terus menekan dan chreess. Aku merasa seperti ada yang carik. "Aauuww .. Huk .. Huk .. Huu .. Huu .." Lisa menjerit keras lalu menangis terisak-isak.
Selaput daranya dah carik dah. Aku tak begitu peduli dan terus menekan. Kulihat bibir cipapnya mekar semakin besar seperti kembang kuncup. Aagghh. aku menahan rasa nikmat kemutan cipapnya. Kupegang bahu dan kutarik kearahku. Srrtt .. Crrkrktt .. Batangku masuk makin ke dalam. Oouuhh nikmatnya setengah mati., Lisa terus menangis terisak-isak kesakitan, sementara aku sendiri pejam celik keenakkan. Batangku keenakan bila kupaksa untuk menyelusup ke dalam liang cipapnya yangg sempit. Terasa hangat dan sedikit basah.Lisa merintih dan memekik-mekik kecil ketika batangku berhasil menyelusup liang cipapnya yang tersangat sempit. Wooww. Nikmatnya saat liang cipapnya menyepit kepala batangku, daging cipapnya terasa hangat dan agak licin, namun kemutannya begitu kuat seakan-akan kepala batangku seperti diremas-remas. Aku kembali menekan sampai de dasarnya dan Lisa menjerit kecil lagi, aku tak peduli. "Aaww. Bbaanngg sakiit ..", teriak Lisa meminta belas kasihan, tubuhnya menggeliat kesakitan dan gemetar. Aku berusaha menenteramkannya.Kukulum bibir dan lidah Lisa dengan penuh nafsu sekali sambil kugoyang ponggongku perlahan-perlahan. Kemudian aku kucup dahinya. Perlahan aku bawa bibirku ke arah dadanya. Kesedut-sedut lagi. Sehingga bertambah lagi kemerahan tubuhnya yang putih.Mendesah-desah Lisa. Kegelian dan nikmat. Akhirnya aku tarik batangku. Hanya kapala batangku saja yang masih di dalam vaginanya. Aku tarik dan sorong kepala batangku di liang cipapnya berkali-kali. Lisa mulai merintih-rintih kembali. Dan aku mengambil kesempatan itu dengan menghentak batangku masuk menyelusup terus ke dasarnya. Tubuh Lisa terangkat ke atas sambil memelukku. "Ssaakiit .. Oohh ... Ssedapnya Bang ..", erang Lisa perlahan.Kata sakit sudah berubah menjadi sedap. Aku buat begitu berkali-kali. Itulah keenakan bermain dengan seorang dara sunti. Masih perawan. Dan mungkin betapa nikmatnya seorang dara sunti mengalaminya pertama kali. Aku peluk erat tubuhnya. Aku menggeliat kenikmatan merasakan kehangatan dan kehalusan kulitnya, apalagi masa dadaku menekan kedua buah dadanya yang montok. Rasanya begitu kenyal dan hangat. Puting-puting susunya terasa mengeras dan tajam. Perut kami bersentuhan lembut dan yang paling merangsang adalah waktu batangku berenag-renang di dalam liang cipapnya yang lembut tapi sempit. "Lisa. Hh. Bagaimana sekarang ..", bisikku mesra. Ia memandangku dan tersenyum malu. "Mm .. Sedap Bang .. Rupanya nikmat ya Bang ..", ujarnya terus terang.Belum sempat dia selesai berkata-kata, aku tarik kepalanya dan mengulum bibirnya yangg nakal itu, Lisa membalas. Kujulurkan lidahku ke dalam mulutnya dan Lisa langsung mengulumnya hangat. Kurayapkan kedua jemari tanganku di belakangnya. Mengusap dan menyelusuri tubuhnya dari bahu terus ke bawah. Di bahunya yang hangat dan padat.Kuramas-ramas dan ketika tanganku bergerak ke lingkaran ponggongnya yang bulat merangsang. Aku pegang dan remas sepuasnya. Aku mulai menggoyangkan ponggongnya aku gesel tubuh Lisa yang telanjang terutama di bagian selangkangannya dimana batangku masih terpacak. Menekan cipap kecil milik Lisa yang lembut, betapa nikmatnya kurasakan.Lisa menggeliat kegelian namun ia sama sekali tak menolak. Batangku terasa senak bergesel dengan dasar liang cipapnya. Lisa hanya merintih kesedapan dan memekik kecil. "Aahh .. Sedap Banngg ..", erangnya membuatku makin terangsang. "Aahh .. Lisa .. Cipapmu .. Nikmat .. Sshh ..", aku melenguh keenakan. "Goyaang Bbaanng .. ", bisiknya hampir tak terdengar. Manja. Aku menuruti kehendaknya. Aku goyang perlahan-lahan. Sambil aku cium bibirnya dengan bernafsu, dan iapun membalas dengan bernafsu. Nafasnya mendengus-dengus. Batangku menggesel-gesel liang cipapnya dengan agak kasar. Lisa memeluk ponggongku dengan kuat, ujung jemari tangannya menekan punggungku dengan keras.Kukunya terasa menembus kulitku. Tapi aku tak peduli, aku sedang melayang-layang menikmati tubuhnya. Lisa merintih-merintih dalam cumbuanku. Beberapa kali ia mencoba menggigit bibirku, namun aku tak peduli. Aku hanya merasakan betapa liang vaginanya yang hangat dan lembut itu mengemut ketat batangku. Seakan ketika kutarik keluar batangku.Seolah vaginanya mau ikut sama. Agghh. Nikmatnya luar biasa. Aku mendesis panjang karena terlalu nikmat. Aku tarik dan sorong batangku. Keluar masuk menyenggol liang cipapnya. Aku rasa dah tak tahan. Nak klimaks. Lisa kulihat seperti terawang-awang perasaannya. Kedua jari tangannya mengusap-usap perlahan yang berkeringat. Aku kembali mengecup bibirnya. Mengajak bercumbu, Lisa menyambut bibirku. Aku mulai menggerakkan ponggongku turun naik. Tetapi lambat dan teratur. Kutarik perlahan batangku keluar dari kemutan liang cipapnya. Perlahan-lahan batangku kusorongkan kembali di celah liang hangatnya. Vaginanya kembali mengemut lembut kulit batangku. Kemutan liang cipapnya kembali menahan laju gerakan masuk batangku. "Aagghh", kembali aku mengerang menahan rasa nikmat yang tiada tara saat itu. Lisa menjerit kecil lalu merintih-rintih pelan diantara rasa nyilu dan nikmat. Aku tekan ponggongku lebih ke bawah sampai seluruh batangku tidak ada lagi yang tersisa di luar celah cipapnya, kutekan dan kutekan sampai kurasakan diantara kemutan ketat bibir dan liang cipapnya kepala batangku menyentuh dasar cipapnya. Mulut rahimnya. "Aaghhghh", Lisa kini mengerang-erang mulai merasakan nikmatnya permainan indah ini. "Oouuhwhww .. Bangg .. Lisa ssee .. Ssedapp .. Nyee .. Oouuhhww .." ia kembali mengerang kenikmatan. "Aahhgghh .. B.. Bangg .. Aahhghgh. Nikmat b .. angg ..", erangnya lagi. Saat itu seluruh batangku kembali kubenamkan ke dalam liang cipapnya secara perlahan. Kedua jemari tangan Lisa mengusap-usap dan mencekam-cengkam kedua belah ponggongku yang terus bergerak turun naik secara lembut menyetubuhinya. Badannya ikut bergoyang pelan naik turun bahkan kekadang mengayak-ayak seirama dengan tarikan.Beberapa kali dia melepaskan kucupannya dan mendesah lembut melepas rasa nikmat. Dia sudah mulai terbiasa dengan gerakan permainan ini. Aku tarik dan sorong batangku dengan penuh kenikmatan. Kekadang aku sengaja aku main-mainkan kepala batangku di alur cipapnya. Aku sondol-sondol batu permatanya. Tubuh Lisa bergetar-getarku rasakan. Dan ketika Lisa mengerang-erang kenikmatan. Aku hentak batangku masuk sampai ke dasarnya kembali. Tubuh Lisa terangkat-angkat bila aku lakukan begitu. Itu yang menjadi keseronokanku. Menikmati tubuh seorang dara sunti. Tiba-tiba tubuh Lisa mengejang dan bergetar lembut. Mulutnya mendesis dalam kuluman bibirku. Kedua kakinya tiba-tiba dihentakkan ke belakang ponggongku. Sambil ponggongnya diayak-ayak. Aku rasa liang cipap miliknya terkemut-kemut membuat batangku seakan diramas-ramas kuat. Tubuhku ikut merasakan kenikmatan yang amat sangat. Aku biarkan lagi batangku terbenam di dalam liang cipapnya yang sedang berkemut-kemut itu. Suatu cairan yang hangat dan licin mulai membasahi seluruh batang. Lisa menjerit kecil dan melenguh panjang. Aku tau. Lisa dah klimaks lagi. "Aagghh .. Oouuhh ..", erangnya nikmat. Kubiarkan Lisa menikmati klimaksnya.Sambil kurendam batangku seketika. Mata Lisa terpejam rapat. Kemudian aku terus berdayung di dalam kehangatan cairan klimaksnya. Semakin laju dan laju. Aku tak dapat menahan. Air maniku mengalir deras menuju ujung batangku. Aku mencoba menahan lagi.Tersengguk-sengguk batangku jadinya. Namun akhirnya aku menyerah. Aku benamkan seluruhnya batangku dan seterusnya ikut melepaskan rasa nikmat yang tertahan dan mencapai puncak nikmat. Air maniku menyembur tumpah keluar dari dalam liang cipapnya."Aaghh", akupun meraung keras, melepaskan segala perasaan yang tertinggal. Dansambil tanganku menautkan ponggong Lisa dan Lisa ayak-ayak tanpa kupinta. Merasakan kehangatan air maniku di dalam vaginanya. Tubuh kami sama-sama bergetaran dan mengejang. "Oouuh .. Bbaanngg .. Oouugghh ..", Lisa melenguh melepas klimaknya."Hhgghh ... Lii .. Sa .. Hhghgghhg ... Oouhh nikmatnya ...", erangku sambil menikmati.Batangku terlena sesaat memuntahkan air maniku di dalam liang cipapnya. Kugoyang-goyang pinggangnya ke kiri dan aku sudah tak berdaya mengangkat tubuhku lagi. aku rasakan liang cipap Lisa mengendur. Tiba-kedua kakinya terkulai lemas tak bertenaga.Akhirnya akupun ikut terkulai layu di atas tubuhnya. Aku benar-benar sangat letih namun penuh dengan kenikmatan. Kami berdua hanya mendesah panjang merasai sisa-sisa kenikmatan yang masih tersisa. Aku memeluk erat tubuh Lisa, lalu kukulum bibirnya dengan lembut, lalu aku berguling di sampingnya, batangku menggelungsur keluar dari dalam liang cipap yang kini sudah licin. Ia merintih ngilu. Aku menghempaskan tubuhku di samping tubuh telanjang Lisa yang putih mulus berpeluh. Kelemasan. . Tamat

Anak sekolah Dijual kawannya1




Keesokan harinya, selepas meeting dan menguruskan segalanya yang perlu dengan Ibu pejabat, aku balik ke Hotel. Waktu sudah petang. Dekat pukul 7.00 petang. Biasalah tu. Kalau tak kerjapun buat-buat ada kerja. Aku seperti biasa mandi dan bersiap-siap. Sementara itu aku menunggu kedatangan ayu. 

Seperti semalam Akupun turun dari Hotel dan akan menapak ke medan selera. Sampai saja aku di Hotel Lobby aku nampak ayu. Tetapi bukan seorang. Ada seorang lagi bersamanya. Seorang gadis sebaya dengannya. ayu waktu itu pakai T-Shirt dan Skirt pendek. Seorang lagi berpakaian baju kurung tapi tak pakai tudung. Nampak ayu aja. Winnie nampak aku dan tersenyum. aku balas balik senyum dia dan terus mendekati mereka. Kujulur tangan aku. Berjabat salam dengan ayu. Kemudian ayu memperkenalkan aku dengan kawan dia. 

"Ni, kawan ayu" Katanya sambil tersenyum. 
"Hello" kataku. 
"Hi" sapanya kembali. Kami bersalam. Dia tersenyum dan aku balas senyumannya. 
"ayu mau pinjam kamar boleh gak. Kita orang mau mandi". ayu berkata kemudiannya. 
"Boleh. Apa salahnya. Tapi jam kita makan dulu. Abang belanja makan. Abang tengah lapar ni" kataku. 
"Kita orang sudah makan lah. Sebelum datang tadi. Sorry ya". Jawab ayu. 
"Macam ni la. ayu dan kawan ayu masuk kamar. Mandi. Kita jumpa nanti. Okay". Kataku

Naik de, sampai tingkat kamar aku. Dari jauh, aku nampak kamar tak berkunci. Ahh. Sudah. Apa dah jadi ni. Bisik hatiku. Slow-slow aku tolak pintu tu. Aku nampak ada sorang tengah tidur atas kasur
"Dear Abang, maafkan ayu kerana tidak menunggu kepulangan Abang. Semasa Abang membaca surat ayu ini, ayu kemungkinan telah bersama dengan lelaki lain. Sebenarnya, semalam itulah kali pertama ayu melakukannya. Pengalaman bersama Abang akan ayu bawa untuk mendapatkan uang perbelanjaan ayu". Bla. Bla. Dan seterusnya 
Okaylah. Selepas aku baca surat ayu, aku beralih ke tepi ranjang. Aku lihat kawan ayu sedang tidur nyenyak. Berselimutkan comforter yang disediakan oleh pihak hotel. Dalam kepala aku berfikir sesuatu. Kenapa pulak dia ni tak ikut ayu. Dalam hatiku berdetik. Lama juga aku perhatikan dia. Tak lama kemudian dia menggeliat. Dia membuka mata dan terus duduk. Tubuhnya masih di dalam comforter. Sambil tersenyum manis, gadis itu menyapaku. 

"H.. Hai.., d... Dah lama b... Balik..". 
"Dah lama juga" jawabku seramah mungkin sambil tersenyum. 

Dia amat gugup bila mahu bertanya kepadaku. Mungkin dia malu. Tetapi soalnya kenapa dia sengaja mau ditinggalkan oleh ayu. 

"Mana ayu?", Tanyaku pura-pura tak tau. 
"Eehrr.. ayu.. Itu.. Dia.. Dia.. Bang.. Entah.. Tak.. Tau..", jawabnya dengan suara terbatah-batah. 

Akupun segera duduk di birai kasurl. Sebelahnya. 

"Ooh.. Jadi.. ayu tingalkan adik seorang- lah ya?", aku terus bertanya. 
"Mm..". Dia mengangguk. Semakin tak tentu arah melihatku duduk di sebelahnya. 
"Sekolah lagi kan. Tingkatan berapa Dik?", tanyaku memanfaatkan kesempatan yang ada. 
"Mmph. A.. Aa.. Ting.. Katan.. Empat.. Bang..", jawabnya terbatah-batah. Gugup dan malu. 
Wajahnya nampak merah padam. Jelas pada kulitnya yang putih bersih, kelihatan manis dan ayu. Bibirnya yang merah dan kecil tersenyum malu sambil memperlihatkan giginya yang putih. "iih. Adik ini kenapa malu-malu. Tak suka ngobrol dengan Abang ye", pancingku."Mpphh .. Tt .. Tak .. Aah ..", jawabnya sambil tersenyum manis. Makin berani dia ni. Pikirku."mmh. Boleh Abang tau nama adik?", tanyaku kemudian. "Mm ...". Dia tak menjawab, tapi senyumnya semakin manis. Tersipu malu. "Mm .. Mm .. Mm .. Kenapa Mm .. Aje he .. He .. Tak apa kalau tak bisa. Abang cuma ta ..". "Mm .. Lisa Bang", tiba-tiba ia memotong kata-kataku."Oo. Lisa. Cantik ye nama tu. Oh ya, Nama Abang ..", sahutku sambil mengulurkan tangan kepadanya. Mula-mula dia malu-malu, namun akhirnya ia meraih tangan kananku. Kujabat erat tangannya yang agak kecil, halus mulus sekali, macam tangan Winnie jugak. "Abang datang sini business ye", tanyanya makin berani. "Iyaa. Kenapa?" tanyaku kembali. "Tak. Saja je tanya. Tak bisa ke" Jawabnya makin manja. kuberanikan diriku. Segera aku mencoba menarik tubuhnya dekat di sampingku. Dia sesuai dengan manja. Comforter yang pada mulanya menutupi tubuhnya. Jatuh ke bawah memperlihatkan bajunya. Melihat reaksinya itu tanpa terasa batangku tersengguk-sengguk. Mulai mengeras. Aiihh. Bisa ni. Bisik hatiku. Aku segera memeluk tubuh kecil molek yang seksi itu dan dengan perlahan aku cium pipinya yang putih bersih itu dengan bibirku. Lisa gemetar dan kaget melihat tindakanku yang terlalu berani, lalu segera menarik pipinya. Aku jadi tak sedap hati dibuatnya. "Eeh. Abang ni. Beraninya", Lisa memandangku. Namun dia sempat melirik tersenyum. "Biasa la" jawabku.Mempertahankan diri. Aku segera mencoba mengendalikan diri kembali, sambil tersenyum manis. Aku segera meraih tangannya dan kutarik turun dari ranjang. Sambil kupegang tangannya erat-erat. Dingin aje. aku tatap wajah manisnya yang sangat innocent itu.Wajahnya masih mulus dan terlihat malu-malu, tapi aku tau. Dia ni mau merasakan bagaimana nikmatnya bersama pria. Mungkin Winnie telah menceritakan kepadanya. Ini merupakan peluangku untuk mendapatkan seorang lagi dara sunti. Bisik hatiku. Sambil terus tersenyum manis aku berkata padanya. "Lisa. Tadi tu. Abang rasa dah tak tahan. Lisa tak biasa ke?", tanyaku. "Mm .. Tak. Ta.k Tak.k?" Lisa seakan tetap gemetar. Lisa berjalan menuju ke kusyen. Tubuhnya yang hanya setinggi bahuku itu melenggok asyik. Meskipun kecil tapi tubuhnya gebu dan kelihatan seksi sekali. Tentu yang di dalam lebih lagi. Hati kecilku berkata. Ponggongnya yang bulat terkulat-jamur menggelek seksi, sedang kedua kakinya kelihatan agak kecil, maklumlah masih sunti. Meskipun dia memakai baju kurung tapi agak ketat sehingga aku dapat lihat bentuk buah dadanya. Meskipun tidak sebesar kepunyaan Winnie. Sangat merangsang sekali. Seorang gadis yang tubuhnya mulai mekar berkembang seperti mekarnya sekuntum bunga di dalam taman. Batang aku mulai keras kembali. Lisa menghempaskan ponggongnya di kusyen. aku segera mendekatinya dan duduk rapat di sampingnya, aku pandang wajahnya. Bibirnya yang kecil terlihat basah dan ranum kemerah-kemerahan tanpa lipstik. Mm. Ingin rasanya aku kucup dan kulum bibirnya yang indah itu. "Lisa ni cantik la.", godaku. "Boleh tak kalau Abang cium Lisa." kataku semakin nekad walaupun aku tau ​​tak perlu aku katakan begitu. "iih. Abang ni .. Ahh ..", jawab Lisa. Tapi aku tau ​​dia bersandiwara. aku jadi semakin berani dan bernafsu. "Lisa. Jangan takut ya. Apa yang Abang nak. Lisa pun nak. Oleh itu. Terus teranglah". Kataku. Tanpa aku sadari kata-kata itu keluar dari mulutku. Aku heran dengan kata-kataku sendiri seolah-olah ada yang memaksaku untuk mengatakan begitu. Sementara itu mata Lisa memandang ke arahku, wajahnya yang putih. Manis merah padam jadinya. Bibirnya yang kecil merah merekah dan tampak basah. "Bangg ..", hanya kata itu yang diucapkannya, ia hanya memandangku tanpa sepatah katapun. Aku mengambil inisiatif dengan menggenggam erat mesra kedua belah tangan kecilnya yang halus mulus. "Betulkan. Apa yang Abang kata "Selesai aje aku berkata begitu aku dekatkan mukaku ke wajahnya, dan terus aje aku mengecup bibirnya dengan lembut. Bibirnya begitu hangat dan lembut, terasa nikmat dan manis. Hidung kami bersentuhan lembut sehingga nafasnya kudengar terputus-putus, namun Lisa tidak menolak, aku kulum bibir bawahnya yang hangat dan lembut, kusedut sedikit.Nikmat. Kali kedua aku mengucup bibir seorang gadis dara sunti. Mengasyikkan. Tidak lama kemudian, aku lepaskan kecupan bibirku. Aku ingin melihat reaksinya. Saat aku kucup tadi rupanya Lisa memejamkan kedua belah matanya. Dengan mata yang kuyu dia memandangku. Wajah manisnya begitu mempesonaku, bibir kecilnya yang kukucup tadi masih setengah terbuka dan basah merekah. "Cammnana. Lisa okay tak? Okay. Kan", tanyaku sambil menahan nafsuku yang bergelora. Tanpa disadari oleh Lisa batangku sudah tegang tak terkira, karena batangku mengarah ke bawah, sakitnya terpaksa kutahan. Rasa senak pun ada. Aku kucup bibirnya lagi karena aku tak tahan dengan nafsuku sendiri, namun dengan cepat Lisa melepaskan tangan kanannya dari remasanku, ditahannya dadaku dengan lembut. Aku tak jadi mengucupnya. "Bang." Lisa berbisik perlahan, terlihat takut dan gemetar. "Kenapa. Malu lagi?", hanya itu yang terucap. Pikiranku telah dikuasai oleh nafsu.Tak tau nak cakap apa. "Tapi Bang. Lisa takut Bang" "Takut apa. Cakap. La. Tak ada yang perlu Lisa takutkan. Percayalah", pujukku meyakinkannya. Tanpa kusedari kubasahi bibirku sendiri. Tak sabar ingin mengucup bibir kecilnya lagi. Batangku semakin keras. Selain sakit karena salah parkir. Makin membesar, bayangkan aja aku sudah tinggal beberapa babak lagi keinginanku akan dipenuhi, bayangan tubuh gebu. Telanjang bulat. Tak berdaya. Siap untuk di santap. Dara sunti lagi. Ahh alangkah asyiknya. Tanganku bergerak semakin berani, yang tadinya hanya meremas jemari tangan. Kini mulai meraba ke atas. Menyelusuri dari pergelangan tangan terus ke lengan sampai ke bahu lalu kuramas lembut. Kupandang busut bulat bak putik kelapa dari balik bajunya. Terlihat tonjolan penuh berisi daging montok yang sangat merangsang. Jemari tanganku gemetar menahan keinginan untuk menjamah dan meremas bukit montok itu. aku lihat Lisa masih memandangku. Tergamam. Namun aku yakin dari wajahnya. Dia telah dilanda oleh nafsu birahi yang menggelora. Dan aku rasa dia tahu.Aku telah siap untuk menerkam dirinya. Menjamah tubuhnya. Meremas dan akhirnya akan menguasai dirinya luar dan dalam sampai puas. aku senyum dan berhenti namun bisikan-bisikan di belakangku seakan mengatakan, "Lanjutkan". Kini jemari tangan kananku mulai semakin nekad mengusap bahunya yang sedang mekar itu dan ketika jemariku merayap ke belakang, kuusap belahan ponggongnya yang bulat lalu kuramas-ramas. Aduuh mak. Begitu asyik, hangat dan padat. "Aahh. Bang", Lisa merintih perlahan. Semakin lemah. Saat itu jemari tangan kananku bergerak semakin menggila, kini aku bergerak menyelusup ke belah depan pangkal pahanya yang padat berisi, dan mulai mengusap bukit kecil. Bukit cipapnya.Kuusap perlahan dari balik kainnya agak licin, kemudian dengan perlahan aku selak kainnya ke atas dan kulekapkan jemari tanganku di tengah selangkangannya. Dan aku genggam perlahan. Lisa menggeliat kecil, saat jemari tanganku mulai meremas perlahan. Terasa lembut dan hangat di balik celana dalam putihnya. Kudekatkan mulutku kembali ke bibir kecilnya yang tetap basah merekah. Hendak menciumnya, namun Lisa menahan dadaku dengan tangan kanannya. "iih. Bang .. Aah .. Bb .. Bang .. Jangan ganas-ganas ya Bang", bisiknya. Nafasnya turun naik. Laju. Kena dah dia ni. Pikirku. Menang. Jari jemari tanganku yang sedang berada di sela pahanya itu terus kumainkan peran. Aku lupa diri, dan aku tak peduli akibat nanti. Yang terfikirkan saat itu, aku ingin segera menjamah tubuh Lisa, merasakan kehangatannya, bermesra dengannya sekaligus memagut dan merasakan nikmat keperawanannya sampai nafsuku dipenuhi. Tanpa membuang waktu segera aku mengucup bibir kecilnya dengan penuh gairah. Kuhayati dan kurasakan sepenuh perasaan kehangatan dan kelembutan bibirnya itu, aku gigit lembut, kusedut ramah. Mm nikmat. Dengus nafasnya terdengar tak menentu sewaktu aku kucup dan kulum lidahnya. Cukup lama. 

Bersambung. . .. . .

Kisah Mahasiswi Menjadi Penjajah Sex

Terlebih dahulu, Aku ingin memperkenalkan diri. Aku adalah seorang pegawai di sebuah perusahaan swasta yang terkenal karena sebelum ini ia adalah milik penuh pemerintah.Kantor pusat perusahaan ini berada di Jakarta tetapi Aku kerja di kawasan timur. Sebagai pegawai atau lebih tepat manajer, Aku selalu ke kantor pusat karena menghadiri pertemuan maupun hal-hal lain. Oleh karena terlalu banyak waktu di luar, keinginan naluri aku terhadap sex jarang dapat dipenuhi pada sebab masa yang tidak menentu. Terus terang aku katakan, aku ini pria normal, kalau lihat anak muda sikit aja, aku ingin memilikinya luar dalam dan semuanya kalau bisa . burung aku mau terbang sendiri mencari tempat bermain.Lebih-lebih lagi kalau cewek itu masih gadis walaupun dah tak perawan lagi. Keinginanku agak lebih sikit. Bahkan istri akupun kadang menyerah. Tiap-tiap hari aku mau main. Yang susah kalau masa bendera Jepang datang. itu yang membuat ku mencari di luar. Dan dimulailah cerita. Aku carik yang muda bukannya apa. Aku teramat syok bila mendengar lawan main aku merintih-rintih. Menggeliat seakan karena kurang pengalaman. Belum bisa control lagi. Kalau sampai menjerit kesakitan lagi mengancam. Kata orang tua-tua. Makan kerupuk. Pengalamanku yang satu macam ini. Masa tu aku kena menghadiri pertemuan  kantor pusat. Aku duduk Hotel Hilton. Hari Minggu. Check in sore. Malam tu. Tak tau mau berbuat apa-apa. Akupun carik makan  medan selera. Jalan kaki jer. Dekat. Tengah dok syok makan. Aku terperasan ada cewek yang memandangi  aku. Dia tengah bayar makan dia. Bila aku pandang. Dia senyum. Dan akupun balas senyum dia. Nampak macam anak sekolah lagi. Mungkin sekolah yang dekat kota. Bisik hatiku. Dia pakai T-Shirt merah dengan mini-skirt putih. Paha dia. alamak. Putih banget. Tentu yang dalam ni lagi best. Bisik hatiku lagi bersamaan dengan 'bird' Aku yang dah mencoba mengepak mau terbang.  Sebab orang banyak. aku mana tau ada kawan dia. Buat malu aja. Akupun terus makan.  On the way balik ke hotel.Ada sebuah bus stop dekat jalan depan hotel. Dari jauh aku nampak cewek tadi duduk sorang diri. Ada chan ni. Bisik hatiku. Akupun mendekati cewek itu. Dekat aja. "Adik tunggu siapa?" tanyaku. "Saja je. Tak tunggu siapa", jawabnya. "Kenapa. Berdiri aja. Duduk la. Ku takut", kata dia lagi. Aah. Bisa ni. Bisik hatiku. Jiwa Aku naik bergelora bila kakinya yang pertama bersilang terbuka sedikit. Saja aja dia buat begitu. Dari cahaya lampu jalan. Aku terlihat celana dalamnya yang berwarna kehitaman. Akupun mulai duduk dekat dengan dia.Dia perkenalkan diri dia sebagai ayu. Baru aja masuk tingkat empat. Yang terdekat. Dan kami mulai ngobrol. Tapi yang aku ingat ini . ayu kata .. "Sekarang ni susah ya Bang. Semua hal kena pakai duit". Dan dia mulai menceritakan masalahnya untuk membiayai pendidikannya. "Sekarang ni. Meskipun ada uang saku. Tapi hanya cukup digunakan kadarnya saja" katanya. Aku bersimpati dengannya. Tapi kalau tak dapat apa-apa.  Paling kurang bisa rasa cium dia. Aku kata sama dia .. "Macam ni la. Mari ikut Abang" "Ke mana Bang?", tanya dia. "Ikut aja", kataku. Kami pun jalan bersama masuk ke hotel tempat aku menginap itu. Sampai di kamar. aku terus ajak ayu masuk. Kamar Hotel tu besar nggak. High Class Hotel katakan. ayu minta izin ke kamar mandi buat mandi karena belum mandi katanya. Masa ayu nak masuk ke kamar mandi yang ada bath-tub tu. aku menghalanginya. "Mandi sama-sama ya, Abang belum mandi juga nih", aku terus blakblakan meskipun tadi aku dah mandi. "Malu la!", ujar ayu terperanjat. "Buat apa malu", kataku lagi yang akhirnya membuat ayu terdiam. Terpaksa setuju. Kemeja dan celana terus aku lepaskan, begitu juga dengan T-Shirt merah dan Mini-Skirt ayu. Aku tinggal celana dalam jer, ayu tinggal bra jarang dengan celana dalam warna hitam. Wow, bisa tahan nggak, aku nyaris gelap mata, kagum gila. Di bath tub, karena tak tertahan aku pegang payudara ayu yang masih terbungkus dengan bra jarangnya. ayu terdiam, "Ee. Jangan la. Malu la!", ujarnya seraya mengangkat tangannya menepis tanganku. Tetapi tak jadi. Bila tanganku sampai dulu. "Kenapa, ayu?", tanyaku. "Tak da apa-apa, tapi rasa lain macam nya?", ujar ayu. Aku makin gembira, pelan-pelan aku tanggalkan bra ayu, dia ikut aja, sampai aku lihat dengan jelas payudara ayu, wah comel je. Cute. Dengan nipple warna kemerahan. Cantik dan indah sekali. aku terus belai, aku remas-remas lembut, ayu kebingungan. Cuma bibirnya saja yang mengeluarkan suara .. "Errghh. Aahh .." Aku makin naik stim, aku kecup bibir ayu, kami saling mengulum lidah masing-masing, sementara tanganku asyik bermain-main di dada ayu. Air di bath tub setengahnya. Badan ayu aku terlentangkan. Aku jilat dengan lahap payudara ayu dari lembah ke bukit dan mengisapnya kiri dan kanan. Lidahku berjalan ke perut dan mulai turun ke bawah, aku lepaskan celana dalam ayu sampai tak sehelai benang pun menutupi tubuhnya. "Aahh .. Eahahh .. Ahh, sseedappnnyyeerr", ujar ayu mendesis. Aku makin rancak, tanganku bermain-main di kelangkang ayu sampai ke vaginanya. Cium ayu terus aku usap-usap dan sesekali kularikan jariku ke 'batu permata'nya sambil mengulum bibir ayu. Jari hantu aku mulai masuk ke liang vaginanya, ayu semakin keras mendesah .. "Ergaahh .. Aahh .. Aahh .. Bang .. Sakit .. Bang .. Ahh". Baru aku tau ​​rupanya ayu virgin lagi. aku tak peduli, aku terus mengulum bibir ayu, sementara Jari hantuku menari-nari di tepi susu dan batu permata ayu lalu ayu pun klimaks untuk pertama kalinya. Tiba-tiba ayu berkata, "ayu mau liat tongkat bisa?" Tanpa jawaban dariku ayu cepat melepas celana dalamku dan dengan malu-malu terus memegang batang aku. Entah datang dari mana semangatnya. ayu. Seperti seorang profesional, masturbasi dan membelai batangku." gimana kalau masuk mulut ya?" ayu makin berani. "Coba liat ..", ujar aku perlahan.Pelan-pelan ayu memasukkan batang aku ke mulutnya. Terus aja dia mengulum dan mengisap. Suaranyanya masih terdengar, "Mmpph .. Mmpphh .." mungkin karena geram dia mulai mau menggigit, aku terperanjat dan terus kuramas-ramas buah dadanya. Ia tersenyum malu namun terus bermain dengan batang aku. Bila mau klimaks, aku tarik batang aku dan aku semprotkan di antara buah dada ayu. Ujarnya, "La. Kenapa kencing!!" "Ini bukan kencing, ini air mani la ..", ujar aku. Dia mengangguk paham. Sambil mengusap-usap air maniku di dadanya. "Jom. Main yang real punya. Bisa tak!", lanjut aku. "Tapi ayu takut la?", ayu jawab balik. In. "Apa kau takutkan. Tak ada apa-apa. Pengalaman buat ayu", kataku lagi. ayu yang ingin pengalaman yang tak pernah dilaluinya itu terus menyetujuinya. "Boleh, tapi di atas ranjang ya. Jangan kasar-kasar tau". Setelah itu pelan-pelan kami berdua beriringan sambil berpelukan berjalan ke arah ranjang. Aku terus baring di atas ranjang berselimutkan comforter. ayu duduk di sebelah. Tanpa berpikir panjang aku tarik tubuh ayu dekat kepadaku. Gile. Benar, tubuhnya walaupun kecil tapi montel dan gebu. aku terus beraksi, pertama dengan 'french kissing'. Aku mulai mencium, mengulum, dan menggigit-gigit bibir comel Winnie sampai ayu telentang dengan sendirinya. Lidah kami tolak menolak. ayu semakin sesak nafasnya. Aku berbaring di sisi kanan ayu.Kami melanjutkan 'french kissing' dengan lebih bernafsu sambil tanganku berputar-putar ke arah payudara ay. Tubuh ayu terus menggeliat-geliat, aku semakin bertambah nafsu.Aku remas perlahan-lahan buah dada ayu, dari bawah menuju ke nipplenya. Nipplenya yang masih berwarna kemerahan jadi keras. Buah dadanya tegak keras, sesekali aku gentel nipplenya dengan lembut menggunakan ibu jari dan jari telunjukku. Setelah itu aku mulai mengulum dan mengisap nipple payudara ayu, dia semakin meghenyam-ghenyam .."Aahh. Eaahhee .. Aahh ..", ujarnya sambil menarik rambutku. Aku tak tahan, aku gigit nipplenya perlahan-lahan dan semakin kuat ia menarik rambutku. "Aahh .. Aahh ..", ujarnya semakin kencang. Kemudian aku putar badannya dengan posisi 69, Winnie terus menyambut batangku dan mengulumnya dengan penuh berahi. Sementara itu aku jilat cipeep ayu, wah wangi. Mungkin bau parfum bercampur bau cipep ayu . Sambil menjilat, aku main-mainkan 'mutiara'. Sesekali kucoba masukkan jari hantuku ke dalam. cipep ayu. ayu tersentak dan mendesah keras .. "Aahh. Sakit Bang. Aahh. Slow slow ya .. Aahh .." seraya mengulum batangku lebih kuat lagi. 

Terasa mau tercabut batang aku,  kuluman kuat ayu. Aku buka bibir cipet ayu dan kurapatkan mulutku ke arahnya. Aku julurkan lidah aku ke dalam sambil aku ayak-ayak punggungnya. Setelah itu, dengan menahan nafas aku sedut tengah-tengah cipet ayu. Berdesit-desit bunyi. Air ayu masuk ke dalam mulutku. Bagai menggeliat tubuh ayu. Tiba-tiba ayu menekan cipetnya kearah mukaku. Tubuhnya seperti seakan kejang dan ia mendesah perlahan dan kemudian bertambah keras.. 

"Aahh.. Aa.. Hh.. Hh.. Hh..", nafasnya tersengal-senal. 
"Satu session lagi, ayu", ujarku. 

Aku tak gunakan kondom  aku tau yang ayu ni belum pernah berhubungan badan. Jadi aku mau dia rasakan macamana yang sebenarnya. Tanpa kondom. Tanpa membuang waktu aku telentangkan ayu. Mukanya nampak sedikit letih. Mulutnya berselemak air liurnya dan air keringatku. Aku kangkangkan kaki . Nampak 'biji klentit'nya dengan rekahan yang comel. Bulu ada sikit tapi halus-halus. Perlahan-lahan aku pegang batangku. Aku tempelkan dekat biji klentit dia. Bagi salam sikit. Aku nampak alur ayu ni dah lama becak. Mula-mula aku masukkan kepala batangku dulu. 

"Eerrhh..", Ringik ayu sambil memegang tubuhku. 
Bila ku tekan balik lagi "Bang.. Sakit Bang.." Sambil tangannya menahan ke arah tubuhku. 

Aku enjot perlahan-lahan. aku goyang-goyang sikit, buat round sambil itu aku kulum lidahnya.

"Aahh.. Eehh.. Aahh.. Eehh..", ayu mendesah lagi. 

 ayu sudah macam menghayal. Dengan satu hentakan. Aku tekan cipepnya. Chhess. Bunyi seperti bawang kena hiris. ayu. Menjerit. Sakit katanya. Sambil terisak. Aku tak hiraukan katanya. Kubenamkan batangku dalam-dalam. Sambil tu, aku kulum kuping telinganya. ayu menggeliat kegelian. Hilang sakitnya. Akupun mula tarik sorong batang aku. Lama-lama dari perkataan sakit. Timbul rintian ayu kembali. 

Tanganku kembali berjalan-jalan di sekitar buah dada ayu, meramas dan membelainya perlahan-lahan sambil kukulum lagi lidahnya. Dengan tiga serangan serentak. ayu seakan hilang ingatan. isapan cipepnya menjadi-jadi. Menggelepar tubuh ayu. Setelah beberapa lama, kerana isapan yang kuat  aku merasakan bahwa aku akan klimaks. Aku melajukan enjutanku. Dan dengan satu hentakan kuat, aku simbah liang cipep ayu dengan air azimatku. ia terasa kepanasan air azimatku. ayu sekali lagi menggelepar keenakan sambil mengayak-ayak ponggongnya. merem meelek sehingga satu masa mata hitamnya hilang dek kelazatan yang amat sangat.. 

"Aahh.. Aahh.. Aahh..", ujar kami bersama-sama setelah kami berdua mencapai puncak kenikmatan. Setelah itu, kami tertidur bersama di atas kasur dalam keadaan telentang, keletihan. 
"Sedap kan?", ujarku yang terus diakui oleh ayu. 
"Senang  ya. Melakukannya kerja itu. Sedap pulak tu. Tapi rasa sengal-sengal lagi la", kata ayu kemudiannya sambil memegang cipetnya. 
"Esok-esok hilang la. Lepas tu tambah sedap aja", ucapku. 

Aku kemudian merenungkan ayu sambil tersenyum, hingga akhirnya ayu juga turut tersenyum malu. Waktu  sudah  dua belas tengah malam. 

Kemudian ayu berkata, "Dah lewat dah ni. Esok ada kuliah pulak". 

Kemudian dia  bangun. Dan menuju ke kamar mandi. aku turut mengekorinya. Di dalam kamar mandi. Kami saling bantu membantu. Sabun menyabun. ayu basuh batang aku dan aku gosok-gosok cipet dia. Dalam dia ramas-ramas batang aku. Bangun balik batang aku. 

"mau lagi ka?". Kata ayu. 
"Ahh Ahh lo tu", kataku. Tapi cepat-cepat dia balas. 
"Esok pulak lah ya. Nanti. ayah ayu marah pulak. pulang larut malam" 
"Okey. Janji kamu. Esok tunggu tempat kita jumpa tadi ya", ujarku setuju. 
"Okey", katanya setuju. 

Setelah merapikan diri, ayu kembali pulang ke rumahnya. Sebelum dia balik , aku mau beri dia RM-RM 100 tapi dia tak mau. 

"Esok aja lah. ayu percaya ama Abang", katanya. 

Malam itu tinggallah aku mengenangkan kejadian yang mengasyikkan. Dan aku baru teringat yang aku juga ada urusan penting keesokan harinya. . Akupun terus tidur bertemankan babak-babak nikmat di dalam kepalaku. 

Aku tak menyangka yang aku akan dapat menikmati kelezatan bermain bersama dengan gadis dara perawan seperti ayu. Harapan aku, ayu akan merasakan keindahan pengalaman semalam sehingga dia ketagihnya dan datang kepadaku. 




Bersambung. . . . . . .

Messi Barcelona FC

At the age of 21, Messi received the Ballon d'Or and FIFA World Player of the Year nomination. The following year he won both the Ballon d'Or and FIFA World Player of the Year in 2009, and won the inaugural FIFA Ballon d'Or in 2010 and 2011. He also won the2010-11UEFA Award Best Player in Europe. His style play and small stature has been compared to Diego Maradona, who himself declared Messi as a "substitute" his.
Messi Barcelona





Rabu, 28 Maret 2012

7 mitos memperoleh kenikmatan dan kepuasan seksual


Dalam sebuah literatur dijelaskan, masturbasi, onani, atau rancap adalah perangsangan seksual yang sengaja dilakukan pada organ kelamin untuk memperoleh kenikmatan dan kepuasan seksual. Perangsangan ini dapat dilakukan tanpa alat bantu ataupun menggunakan sesuatu objek atau alat, atau kombinasinya

Pada banyak masyarakat, hingga abad ke-20 masturbasi dianggap sebagai hal yang tidak baik. Anggapan memalukan dan berdosa yang terlanjur tertanam disebabkan karena porsi "penyalahgunaan" pada kata itu hingga kini masih tetap ada dalam terjemahan modern, meskipun para aparatur kesehatan telah sepakat bahwa masturbasi tidak mengakibatkan kerusakan fisik maupun mental.

Tidak juga ditemukan bukti bahwa anak yang melakukan perangsangan diri sendiri bisa mengalami celaka. Anda harus menghapus semua mitos tentang masturbasi dari kepala Anda dan mendapatkan pemahaman yang baik tentang fakta-fakta sebenarnya.

Mitos 1 - Masturbasi adalah untuk anak muda

Tidak ada batas usia untuk melakukan masturbasi. Anak-anak muda biasanya aktif secara seksual dan mereka melakukan masturbasi karena tidak ada pasangan. Statistik menunjukkan, pria dan wanita dewasa melakukan masturbasi hampir setiap minggu, meskipun mereka tidak melakukannya sesering anak remaja lakukan.

Mitos 2 - Masturbasi bukan ‘sesuatu’ yang nyata

Masturbasi bukanlah seks dalam arti yang sebenarnya, karena dilakukan sendiri. Namun bukan berarti bahwa masturbasi itu tidak menyenangkan. Sejauh masturbasi tersebut dilakukan dengan melibatkan pikiran, orang yang melakukan masturbasi akan merasa senang dan terangsang sama halnya dengan mereka yang melakukan hubungan seks secara nyata. Tidak ada perbedaan besar antara masturbasi dengan kegiatan seksual yang sebenarnya.

Mitos 3 - Masturbasi buruk untuk kesehatan

Banyak cara yang dilakukan untuk mencegah masturbasi, termasuk diantaranya dengan memberikan informasi seperti masturbasi bisa menyebabkan jerawat dan dapat membuat seseorang buta. Tidak ada dasar ilmiah di balik semua klaim tersebut. Semua peneliti dan ilmuwan sepakat mengatakan bahwa masturbasi tidak berbahaya.

Mitos 4 - Wanita tidak boleh masturbasi

Studi dan statistik telah menunjukkan bahwa pria lebih banyak melakukan masturbasi dibandingkan wanita. Data tersebut tidak sepenuhnya benar, dan hanya sebagian saja yang benar. Wanita umumnya tidak pernah mengakui kalau mereka melakukan masturbasi, karena adanya pandangan negatif di masyarakat. Padahal, beberapa fakta menyatakan bahwa perempuan sebenarnya telah melakukan masturbasi.

Mitos 5 - Tidak masturbasi jika mempunyai pasangan

Mitos tersebut harus segera dihapuskan, karena banyak orang yang dalam hubungan mulai melakukan masturbasi secara diam-diam tanpa sepengetahuan pasangannya. Tidak ada aturan universal yang melarang seseorang yang sedang menjalin sebuah hubungan untuk melakukan masturbasi, karena ini merupakan kepentingan pribadi setiap orang.

Mitos 6 - Terlalu banyak masturbasi berbahaya

Mitos menyatakan bahwa masturbasi berbahaya. Padahal secara ilmiah, tidak ada efek kesehatan yang merugikan pada mereka yang melakukan masturbasi. Orang yang teratur melakukan masturbasi tidak akan mendapatkan risiko masalah kesehatan, kecuali jika sudah mempengaruhi kehidupan pribadi mereka. Pada beberapa kasus yang cukup jarang terjadi, seseorang mungkin akan kehilangan minat dalam melakukan hubungan seks dan lebih memilih melakukan masturbasi. Inilah yang seharusnya tidak boleh dilakukan, karena masturbasi dikatakan sehat selama tidak mempengaruhi kehidupan pribadi seseorang.

Mitos 7 – Orang tertentu saja yang melakukan masturbasi

Tidak ada perbedaan ketika seseorang melakukan masturbasi. Tidak peduli apakah orang tersebut berasal dari Negara tertentu, strata sosial tinggi atau rendah. Orang akan terus melakukan hal yang sama karena masturbasi dianggapnya sebagai jalan keluar untuk mereka dapat rileks dan beristirahat.





Label